Sikap Intoleran Ajaran Saksi Yehuwa Terhadap Orang Tua yang Murtad

bagaimana sikap intoleransi ajaran saksi yehuwa terhadap orang tuanya yang murtad dari organisasi lembaga menara pengawal
Fakta Sikap Intoleran Ajaran Saksi Yehuwa Terhadap Orang Tua
PILKADA KALI INI benar-benar di luar kewajaran. Kita dipertontonkan sikap intoleransi keberagamaan pihak tertentu terhadap Djarot S. Hidayat meskipun sesama Muslim. Misalnya, Jumat tanggal 14 April 2017 Djarot Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua di usir setelah Jumatan dari Masjid Al-Atiq Kelurahan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. Kejadian pengusiran yang dialami oleh Djarot bukanlah yang pertama. Sebelumnya beliau juga diusir dan dijuluki kafir oleh sekelompok orang pada saat menghadiri haul Presiden Soeharto di Masjid At-Tin, Jakarta Timur, pada 11 Maret 2017 (baca di sini)

Saya ingin Saudara renungkan apa yang terjadi pada kasus Djarot, yaitu ia seorang Muslim dan juga telah haji. Namun demikian, ia diusir dari mesjid dan bahkan dijuluki sebagai kafir. Padahal yang menentangnya belum tentu iman atau keislamannya lebih baik dari Djarot. Dan sangat mungkin yang berteriak-teriak kafir bukanlah haji pula. Lucu sekaligus ironis, bukan? Tetapi ini adalah fakta. Jelas apa yang dialami Djarot merupakan sikap intoleransi terhadap keagamaan dan keragaman [kebhinekaan].

Dan tahukah Saudara, meskipun Saksi Yehuwa kelihatan luarnya baik, ramah dan tidak mengekspresikan sikapnya kepada Anda secara terbuka seperti pihak Muslim terhadap Djarot, bahwa para Saksi Yehuwa [mengaku Kristen] memiliki ajaran yang bersifat intoleransi keagamaan dan keberagamaan meskipun dengan sesama Kristen (baca di sini ulasannya) bahkan terhadap orang tuanya sendiri yang dianggap murtad atau tidak lagi menjadi Saksi Yehuwa karena pilihannya menjadi Protestan, misalnya.

Untuk buktinya, sekarang kita lihat propaganda informasi penyesatan situs resmi JW.ORG di bagian Pertanyaan Umum di mana publik dapat mengaksesnya untuk mengetahui lebih jauh tentang ajaran Saksi-Saksi Yehuwa:

Apakah seseorang yang pindah agama tidak menghormati kebiasaan atau tradisi keluarga?

Tentu tidak. Alkitab mengajarkan untuk menghormati semua orang tidak soal apa agama mereka. (1 Petrus 2:17) Selain itu, Saksi Yehuwa mengikuti perintah Alkitab untuk menghormati orang tua, meskipun agama mereka berbeda.—Efesus 6:2, 3. (baca online di sini)
Bukankah kutipan di atas bijaksana yaitu “Alkitab mengajarkan untuk menghormati semua orang tidak soal agama mereka dan Saksi Yehuwa mengikuti perintah Alkitab untuk menghormati orang tua, meskipun agama mereka berbeda” yang artinya menjunjung sikap toleransi antar umat beragama? Tetapi apakah benar Saksi Yehuwa menghormati semua orang dan orang tuanya yang dulunya Saksi tetapi kemudian memilih agama berbeda; disebut murtad? Saya jawab tidak! Apa yang disampaikan JW.ORG hanyalah sebuah propaganda menyesatkan untuk mengecoh pembacanya agar berpikir bahwa ajaran Saksi Yehuwa bertoleransi dengan agama lainnya.
Apakah sebenarnya pandangan ajaran Saksi Yehuwa terhadap agama lainnya, khususnya bagi mantan Saksi Yehuwa? Pertama, ajaran Saksi Yehuwa sangat intoleransi dengan agama lainnya. Ajaran Saksi Yehuwa menyebut seluruh denominasi Kristen [disebut sebagai susunan Kristen] memiliki ajaran kafir, bahkan agama palsu. Baca Apakah Saksi Yehuwa Toleransi Agama Lain? Tidak!  

Kedua, jika terhadap agama lainnya saja Saksi Yehuwa memiliki sikap intoleransi, apalagi terhadap mantan Saksi Yehuwa. Kita lihat dalam kutipan berikut yang melontarkan julukan hinaan terhadap mantan Saksi Yehuwa sebagai “serigala-serigala yang menindas, guru-guru palsu yang berdusta, licik, yang harus dijauhi, bahkan dicap sakit secara mental” yang disampaikan dalam publikasi Menara Pengawal:

. . . Yehuwa melalui rasul Paulus dan rasul Petrus memperingatkan kita terhadap guru-guru palsu itu. (Baca Kisah 20:29, 30; 2 Petrus 2:1-3.) Siapakah mereka? Kata-kata kedua rasul itu memberi tahu kita dari mana asal guru-guru palsu itu dan cara mereka menipu orang.

Kepada para penatua di sidang Efesus, Paulus mengatakan, ”Dari antara kamu sendiri akan muncul pria-pria yang membicarakan perkara-perkara yang belat-belit.” Petrus menulis kepada rekan-rekan Kristen-nya, ”Akan ada juga guru-guru palsu di antara kamu.” Jadi, dari mana asal mereka? Mereka bisa muncul dari dalam sidang. Mereka adalah orang murtad. Apa yang mereka inginkan? Mereka tidak puas hanya dengan meninggalkan organisasi. Tujuan mereka, seperti kata Paulus, adalah ”untuk menjauhkan murid-murid agar mengikuti mereka”. Bukannya membuat murid sendiri, orang murtad berupaya membawa murid-murid Kristus bersama mereka. Seperti ”serigala-serigala yang menindas”, guru-guru palsu berupaya melahap para anggota sidang, menghancurkan iman mereka dan menjauhkan mereka dari kebenaran.—Mat. 7:15; 2 Tim. 2:18.

Bagaimana cara kerja guru-guru palsu? Metode mereka sangat licik. Seperti penyelundup, orang murtad ’dengan diam-diam membawa masuk’ gagasan yang merusak. Dan, sama seperti pembuat dokumen palsu, orang murtad menggunakan ”kata-kata yang memperdayakan”, atau argumen-argumen yang keliru, dan membuatnya seolah-olah benar. Mereka menyebarkan ”ajaran palsu”, dan ”memutarbalikkan Tulisan-Tulisan Kudus” agar sesuai dengan gagasan mereka. (2 Ptr. 2:1, 3, 13; 3:16) Jelaslah, orang murtad tidak peduli kepada kita. Jika kita mengikuti mereka, kita akan tersimpangkan dari jalan menuju kehidupan abadi.

Bagaimana kita dapat melindungi diri dari guru-guru palsu? Alkitab memberikan nasihat yang jelas tentang cara menghadapi mereka. (Baca Roma 16:17; 2 Yohanes 9-11.) ”Hindarilah mereka,” kata Firman Allah. Terjemahan lain mengatakan, ”Jauhilah mereka.” Katakanlah seorang dokter menyuruh Saudara menghindari orang yang terkena penyakit menular yang mematikan. Peringatannya jelas, dan Saudara pasti akan segera mengindahkannya. Orang murtad ”sakit secara mental”, dan mereka berupaya menulari orang lain dengan ajaran mereka. (1 Tim. 6:3, 4) Yehuwa, seperti dokter itu, dengan jelas memperingatkan kita untuk menghindari mereka. Tetapi, apakah kita bertekad untuk mengindahkannya?

Apa yang harus kita lakukan untuk menghindari guru-guru palsu? Kita tidak mengundang mereka ke rumah kita atau menyapa mereka. Kita juga tidak mau membaca bacaan mereka, menonton mereka di televisi, melihat-lihat situs Web mereka, atau mengomentari apa yang mereka tulis di situ. . . (Menara Pengawal, 15 Juli 2011, hlm 15-19**)
Perhatikan kalimat-kalimat kutipan yang saya beri warna merah tersebut. Di sini organisasi Saksi Yehuwa mengeneralisasi seluruh mantan Saksi Yehuwa sebagai orang-orang murtad — keluar dari organisasi secara baik-baik maupun tidak — dengan kata-kata hinaan, fitnahan dan merendahkan derajat. Dan meminta para Saksi untuk tidak menyapa para murtad. Apakah benar mantan Saksi Yehuwa itu ”menipu, sakit secara mental dan lain-lain”? Belum tentu.

Nah, saya memiliki pertanyaan bagi Saksi Yehuwa yang kebetulan berkunjung di blog ini, yaitu pertama, bagaimana Saksi Yehuwa menjalankan ajaran Alkitab untuk menghormati orang lain [yang murtad] ketika agama pilihan mereka dicap sebagai kafir dan agama palsu?

Kedua, bagaimana Saksi Yehuwa menjalankan ajaran Alkitab untuk menghormati orang yang murtad karena memilih agama lain tetapi dijuluki sebagai serigala dan sakit secara mental?

Ketiga, jika ada seorang Saksi Yehuwa yang ibunya murtad dan memilih agama denominasi lain. Setujukah Anda dengan julukkan yang diberikan organisasi kepada ibu Anda dengan sebutan serigala-serigala yang menindas, menipu bahkan sakit secara mental?  


Keempat, bagaimana Anda bisa menjalankan hukum ke 4 yaitu hormatilah orang tuamu jika Anda setuju dengan kutipan Menara Pengawal yaitu ibu Anda adalah serigala yang menindas, menipu bahkan sakit secara mental padahal Anda tahu secara pasti ibu Anda bukanlah demikian? 

Kelima, bagaimana Anda bisa menghormati orang tua jika organisasi meminta Anda untuk menghindari dan menjauhi orang tua Anda?

Keenam, adakah publikasi terbitan Lembaga Menara Pengawal yang mendukung pendapat Anda di point 1 s/d 5 di atas?

Saya sungguh ingin mengetahui jawaban Anda sebagai Saksi Yehuwa; khususnya Sdr. Maxi-Sam mengenai hal ini. Bolehkah saya dicerahkan?

Bagaimana pendapat Saudara tentang artikel Sikap Intoleran Ajaran Saksi Yehuwa Terhadap Orang Tua yang Murtad?

Untuk mengetahui siapa dan apa di balik organisasi dan ajaran Saksi Yehuwa, silahkan klik Membongkar Inti Agama Saksi Yehuwa: Kristen Sejati, Sesat atau Kultus? dan buktinya sendiri apakah organisasi Saksi Yehuwa sebuah gerakan Kristen sejati ataukah grup kultus berkedok agama Kristen berdasarkan publikasi dan praktek yang diterapkan dan diajarkan di dalam organisasi tersebut.

Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. (Yakobus 3:17)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Tolong SEBUTKAN Nama Atau Initial Anda saat memberi komentar agar memudahkan Mitra diskusi Anda mengidentifikasikan Anda.

Non Kristiani, mohon tidak memberi komentar.

Jika Anda ingin komentar, silahkan klik DI SINI DULU

.